KIM GARUT

KEBUDAYAAN HAJAT LAUT

Terima kasih mereka terhadap Tuhan yang Maha Esa. Upacara ini biasanya dilakukan pada setiap bulan Muharam.
Hajat laut sama sekali bukanlah hal yang musyrik, karena memang sudah sepantasnya kita menjaga, dan menghormati serta memeliara warisan nenek moyang yang telah turun temurun dilaksanakan, dan sudah menjadi satu keharusan bagi kita semua untuk melaksanakannya. Lalu hubungan dengan sesaji pun itu tujuannya bukan dipersembahkan untuk Ratu Pantai Selatan atau Nyi Roro Kidul. Hal itu hanya merupakan sebuah ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rizki-Nya.
● Persyaratan Ritual Hajat Laut “Sesaji”
•> Makanan serta Alas sesaji
•> Peralatan Nyirih
•> Alat Dapur
•> Umbi – umbian
•> Jajanan Pasar
•> Buah – buahan
•> Pakaian Perempuan
•> Pakaian Laki – laki
● Prosesi Ritual Hajat Laut
Sebelum para nelayan membawa sesaji ke tengah laut, diadakan doa terlebih dahulu seperti Pembacaan ayat Suci Al Qur’an seperti membaca Surat Yasin bersama – sama.
Karena hanya kepada-Nyalah kita berserah diri, memohon dan bersyukur atas semua yang telah diberikan. Acara yang rutin dilakukan setiap tahun ini juga mempunyai makna, agar semua penduduk pantau mendapat keselamatan bilamana mereka mengambil sumber daya alam yang ada dilaut tanpa harus merusaknya.
Setelah seluruh rangkaian acara do’a selesai, dongdang “sesajen yang diletakan di sebuah bangunan rumah – rumahan”  diarak atau diiring menuju bibir pantai, istilah masyarakatn menyebutnya dengan kirab dongdang, atau arak – arakan dongdang. Dongdang dipanggul oleh kaum laki – laki, biasanya mereka memakai pakaian serba hitam dan iket khas Jawa Barat. Seragam ini dikenal dengan nama {Pangsi}. Di depan dongdang utama dikawal dua orang laki – laki yang membawa senjata tradisional (seperti tombak namun memiliki tiga cabang diatasnya, serta bagian bawahnya runcing) persi seperti seorang ‘Patih ‘ yang mengawal orang – orang terhormat. Saat kira dingdang telah sampai dibibir pantai yang dituju, salah seorang sesepuh melakukan ritual terlebih dahulu, ritual ini dianalisir sebagai bentuk ijab-qobul dongdang, hal ini berkaitan dengan komunikasi beliau dengan alam tak kasat mata. Barulah dongdang mulai diturunkan ke pinggir laut. Beberapa dongdang yang berisikan kepala kerbau atau kambing dihanyutkan ke tengah laut, satu persatu dongdang mulai dinaikkan ke atas perahu [bermotor] untuk selanjutnya dibawa ke tengah laut. Serentak para nelayan mulai mengikuti perahu besar yang berisi sesaji tersebut, layankanya dilintasan balap para perahu nelayan mencoba untuk melaju cepat, merapat ketat ke perahu besar, mengawal dongdang utama hingga ke lokasi yang sudah ditentukan.
Sesampainya dilokasi tujuan “di tengah laut”, dongdang tersebut satu persatu mulai diturunkan dari perahu untuk kemudian dihanyutkan. Keriangan para nelayan terlihat, dan terpancar dari mimik syukur, mata yang berbinar, dan suara riuh diantara mereka. Seketika, mereka dengan membawa ember, berloncatan ke tengah laut untuk lebih mendekat dengan dongdang utama. Setelah dongdang dilepas mengambang perlahan, para nelayan berebut air laut disekitar dongdang untuk seterusnya diguyurkan ke perahu mereka masing – masing. Konon, dengan cara seperti ini diharapkan selama satu tahun ke depan para nelayan bisa mendapat keberkahan serta keselamatan dengan hasil tangkapan lebih baik dari tahun – tahun sebelumnya. Setelah semua proses selesai, mereka pun kembali pulang dan berharap apa yang telah mereka lakukan hari ini bisa menjadi pertanda syukur mereka kepada pencipta dan pemberi rizki yakni Allah Subhanahu Wata’ala.

 

 

 

sumber: http://mitaalifiyah.blogspot.com/2016/11/kebudayaan-hajat-laut_26.html

 

KIM GARUT

Add comment

Ikuti Kami

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.